Mozaik Islam

Menjaga Akidah Islam dan Menghargai Kebhinekaan demi Masyarakat yang Harmonis dan Sejahtera dalam Bingkai NKRI

Perkembangan Ekologi dan Sosio-Kultural Kota Banten Girang pada Masa Pra-Kolonial

Sejarah kota dapat dilihat dari berbagai aspek, salah satunya adalah perkembangan ekologi kota. Hubungan antara manusia dan lingkungan alamnya merupakan salah satu kekuatan yang membentuk karakter kota. Artikel ini membahas perubahan ekologi dan sosio-kultural Kota Banten Girang, sebuah kerajaan di Indonesia pada masa pra-kolonial.

Topografi dan Lokasi Kota Letak pusat Kerajaan Banten Girang pada masa lalu terletak di pedalaman. Meskipun demikian, kerajaan ini tidak termasuk kerajaan pedalaman yang memperlihatkan sifat peradaban yang tertutup dan statis, dengan ekspresi kebudayaan yang lebih kurang seragam, seperti yang ditemui pada kota-kota pedalaman Jawa masa pra-kolonial. Banten Girang merupakan kerajaan terbuka dan merupakan daerah yang penting bagi jaringan laut internasional. Hal ini didasarkan pada temuan arkeologis di lokasi tersebut berupa keramik impor, seperti dari Cina, Vietnam, dan Thailand. Selain itu, ditemukan pula manik-manik dan mata uang logam dari dinasti Tang, Cina.

Perubahan Sosio-Kultural Kota Banten Girang merupakan perwujudan kosmologis dalam kerajaan bercorak Hindu. Bangunan-bangunan sakral seperti istana dan tempat ibadah ditempatkan pada ketinggian untuk melambangkan kekuasaan dan religiositas. Sedangkan, bangunan yang sifatnya umum untuk kegiatan ekonomi dan sosial, seperti perumahan, dan pasar ditempatkan di daerah kerendahan. Konsep yang dianut agama Hindu-Budha dan Islam pada masa itu berbeda. Zaman pra-Islam orang cenderung memilih dataran tinggi berdasarkan konsep kosmologi yang percaya adanya dunia atas dan bawah.

Perubahan Ekologi Kota Lingkungan alam mempengaruhi manusia sewaktu mendirikan pemukimannya dalam memilih lokasi, menggunakan bahan konstruksi yang tepat untuk adaptasi dengan iklim, mendirikan bangunan dengan struktur yang sesuai dengan tanah, dan merancang bentuk bangunan yang serasi dengan keadaan sekelingnya. Unsur fisik lingkungan alam yang mengakibatkan perubahan perilaku masyarakat dalam membangun kota dapat dibagi menjadi empat unsur, yaitu topografi, iklim, bahan baku bangunan, dan teknologi.

Sungai Cibanten yang mata airnya berasal dari Gunung Karang dan muaranya di Teluk Banten, dahulu kala menjadi salah satu sarana transportasi yang penting. Menurut catatan sejarah, transportasi yang menghubungkan pelabuhan dengan Banten Girang terdiri atas tiga unsur, yaitu sungai Cibanten dan jalan darat yang terdapat di kiri dan kanan sungai tersebut.

 

Pada masa lampau, Kesultanan Banten telah menjadi pusat perdagangan internasional yang penting di Nusantara. Salah satu faktor utamanya adalah perubahan sosial ekonomis masyarakat yang terjadi pada saat pusat pemerintahan pindah dari Banten Girang ke Banten Lama. Perpindahan ini menguntungkan secara sosial ekonomis masyarakat, karena memudahkan hubungan dagang dengan pesisir Sumatera melalui Selat Sunda.

Situasi masa itu berkaitan dengan keadaan politik di Asia Tenggara, di mana Malaka jatuh ke tangan Portugis. Para pedagang muslim yang enggan berhubungan dengan Portugis mencari pelabuhan lain yang dikuasai Islam. Pedagang muslim ini mengalihkan jalur perdagangannya ke Bandar Banten, sehingga pelabuhan ini menjadi pelabuhan internasional yang banyak dikunjungi kapal-kapal dagang dari Arab, Persia, Gujarat, Birma, Cina, Perancis, Inggris dan Belanda. Selain itu, pedagang dari pelosok Nusantara juga datang ke Kesultanan Banten, sehingga semua barang yang berasal dari luar negeri bisa diperoleh di Kesultanan Banten.

Pelabuhan Karangantu merupakan pelabuhan utama bagi pintu masuk para pedagang asing. Barang-barang dari luar yang merupakan komoditas ekspor, seperti keramik, gerabah, gading gajah, beras, dan rempah-rempah banyak diperdagangkan di pasar dekat Pelabuhan Karangantu. Lada menjadi komoditas ekspor utama bagi perdagangan di Kesultanan Banten. Berita Portugis menyebutkan peranan Kesultanan Banten sebagai pelabuhan lada, kedudukannya menempati urutan kedua setelah Sunda Kelapa. Lada yang diperjual belikan di Banten tidak seeluruhnya berasal dari Kesultanan Banten sendiri, tetapi ada pula lada-lada yang dibawa dari tempat-tempat lain, yaitu dari daerah-daerah di Sumatera, terutama Lampung.

Perdagangan lada menarik minat Portugis untuk melakukan monopoli dan menguasai perdagangan lada di sekitar pelabuhan Selat Sunda (Sunda Kelapa dan Banten), setelah sebelumnya mereka berhasil menguasai Malaka. Namun, kepentingan Portugis itu bisa saja terganjal oleh dua unsur kekuatan yang berpengaruh di Selat Sunda. Unsur kekuatan ini saling bertolak belakang di antara keduanya, di mana satu kekuatan mulai menunjukkan masa-masa kemundurannya, yakni Kerajaan Padjajaran dan kekuatan lain menunjukkan masa-masa kemajuannya, yakni gerakan Islamisasi dari Kerajaan Demak.

Perubahan sosial ekonomis juga terlihat dari kemajuan perdagangan di Kesultanan Banten. Banten menjadi pusat perdagangan yang ramai dan penting pada abad ke-16 dan 17. Hal ini terjadi karena Banten memiliki posisi geografis yang strategis sebagai pintu masuk ke Hindia Timur dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal dagang dari berbagai negara.

Perdagangan yang berkembang di Banten juga mendorong perkembangan industri kerajinan tangan, seperti pembuatan kain tenun, anyaman, dan ukiran. Selain itu, pertanian dan perkebunan juga berkembang dengan adanya komoditas rempah-rempah, padi, dan lada.

Namun, perkembangan perdagangan di Banten tidak selalu lancar. Kekuatan Portugis yang ingin menguasai perdagangan lada di Selat Sunda menjadi ancaman bagi Kesultanan Banten. Pada tahun 1522, Portugis dan Pajajaran (Kerajaan Sunda) melakukan perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak. Namun, perjanjian ini menjadi bumerang bagi Kesultanan Banten karena Portugis kemudian memperluas wilayah monopoli perdagangan lada di Selat Sunda dan berkeinginan menguasai kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.

Kemudian pada tahun 1596, Belanda yang menggantikan Portugis sebagai kekuatan kolonial di Nusantara mulai menancapkan kakinya di Banten. Belanda mulai membuka pos perdagangan di Banten dan memperkuat hubungan dagang dengan kesultanan ini. Namun, Belanda juga ingin menguasai perdagangan lada di Selat Sunda dan mengambil alih wilayah monopoli perdagangan lada yang sebelumnya dikuasai oleh Portugis.

Dalam situasi ini, Kesultanan Banten berusaha menjaga kedaulatannya dengan melakukan berbagai upaya, seperti memperkuat pertahanan dan mengadakan perjanjian dagang dengan Belanda. Namun, pada akhirnya Kesultanan Banten harus menyerah pada kekuatan Belanda pada tahun 1680 setelah melalui perang yang berkepanjangan.

Dengan kekalahan Kesultanan Banten, terjadi perubahan besar-besaran dalam struktur sosial ekonomi masyarakat Banten. Belanda menguasai perdagangan lada dan mengambil alih monopoli perdagangan lada yang sebelumnya dikuasai oleh Kesultanan Banten. Selain itu, Belanda juga mengubah pola pertanian dan perkebunan dengan memperkenalkan sistem tanam paksa dan monokultur untuk memaksimalkan produksi dan keuntungan.

Perubahan ini menyebabkan kesenjangan sosial ekonomi antara masyarakat Banten dan penguasa kolonial semakin lebar. Masyarakat Banten dipaksa bekerja sebagai buruh paksa di perkebunan Belanda dan mengalami penindasan serta eksploitasi yang berat. Namun, masyarakat Banten juga berjuang untuk mempertahankan identitas dan budaya mereka, meskipun dalam situasi yang sulit.