Mozaik Islam

Puasa Ramadhan, Fiqih Shalat, Rahasia Sunnah, Zakat Fitrah, Haji dan Umrah

Haji Mabrur

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala yg telah menunjukkan jalan yg lurus kpd hamba-hamba-Nya, shalawat & salam semoga selalu tercurah kpd Nabi , pemilik telaga & kedudukan yg agung, demikian pula keluarga, sahabat, & orang-orang yg mengikuti mereka kpd jalan yg lurus, wa ba’du:

Wahai saudaraku yg telah melaksanakan haji:

Apabila para jama’ah haji telah berniat utk pulang kembali menuju tanah airnya, mereka akan teringat bapak, ibu, istri, anak, & saudara, sehingga ia membawakan hadiah utk mereka. Barang siapa yg memiliki harta berlimpah, ia akan membawa berbagai macam barang utk diperdagangkan, orang yg berhaji diperbolehkan utk melakukan hal tersebut berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

” لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّينَ ”

“Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berzikirlah kpd Allah di Masy’aril haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yg ditunjukkan-Nya kepadamu; & sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang -orang yg sesat” (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 198)

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: [Ayat ini merupakan dalil bolehnya melakukan bisnis bagi orang yg melaksanakan ibadah haji saat berhaji sambil melakukan ibadah, & sesungguhnya hal itu bukan merupakan perbuatan syirik & tdk pula keluar dari tuntutan keikhlasan yg dibebankan kepadanya, Ad-Daraquthni rahimahullah meriwayatkan dalam sunannya dari Abu Umamah at-Taimi rahimahullah: aku berkata kpd Ibnu Umar : (Sesungguhnya aku seorang laki-laki yg bekerja di jalur ini (berbisnis), & orang-orang berkata: Sesungguhnya tdk ada haji untukmu. maka Ibnu Umar  berkata: Seorang laki-laki datang kpd Rasulullah  kemudian bertanya kpd beliau seperti apa yg engkau tanyakan, lalu Rasulullah  terdiam sampai diturunkannya ayat:

 لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ

“Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu”

Kemudian Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya ada pahala haji untukmu”

Saudaraku yg menunaikan haji: sesungguhnya mengambil dari dunia sekadar batas kebutuhan tdk akan mempengaruhi keikhlasan, akan tetapi bagaimana perasaanmu saat meninggalkan tempat-tempat suci tersebut? Apakah engkau mengetahui wahai saudaraku, bahwasanya Rasulullah  memerintahkan kpd semua orang agar tdk meninggalkan kota Makkah sebelum melaksanakan thawaf wada’ (thawaf perpisahan)? Dari Abdullah bin Abbas , ia berkata: [Orang-orang berpaling (meninggalkan kota Makkah) dari segenap penjuru], maka Rasulullah  bersabda:

” لاَيَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرَ عَهْدِهِ بِاْلبَيْتِ ”

“Janganlah seseorang pergi (meninggalkan Makkah) sehingga mengakhiri ibadahnya di Baitullah (thawaf wada’)” Hadis Riwayat: Muslim

Saudaraku yg menunaikan haji: seperti inilah Rasulullah  memerintah para sahabatnya saat akan meninggalkan Baitullah yg mulia, yaitu agar mereka melakukan thawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Makkah, saat itu hati & pandangan mata mereka telah dipenuhi keagungan Baitullah tersebut–semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menambah kemuliaannya-.

Dan anda wahai saudaraku: apakah yg anda rasakan saat bersiap-siap utk meninggalkan tempat yg suci tersebut?

Saudaraku: tdk diragukan lagi bahwa meninggalkan tempat yg suci tersebut terasa sangat berat di hati, terutama jiwa yg ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala saat menunaikan ibadah haji.

Kemudian wahai saudaraku yg menunaikan haji: ingatlah, pd saat anda meninggalkan Baitullah yg agung, sesungguhnya anda tadinya berada dalam hari-hari beribadah kpd Allah Subhanahu wa ta’ala & musim-musim pendekatan diri kepada-Nya, & betapa membahagiakannya saat-saat tersebut, akan tetapi wahai saudaraku: apakah keta’atan akan menjadi terhenti saat anda pulang menuju tanah airmu? Dan anda teringat akan dirimu pd saat sedang berada dihadapan Allah Subhanahu wa ta’ala , disisi rumah-Nya yg agung, juga hari Arafah & kehebatannya, serta hari-hari Mina & keagungannya.

Saudaraku: bagaimana mungkin anda dpt menggantikan kondisimu dgn yg lain? Oleh karena itu konsistenlah dalam keta’atan, bukalah lembaran baru dalam kehidupanmu, agar bisa mendapatkan ciri-ciri haji yg mabrur. Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: [Haji mabrur adalah: orang yg melaksanakan ibadah haji pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia & senang terhadap akhirat].

Sebagian ulama berkata: Di antara tanda haji mabrur adl bahwa hal itu nampak diakhirnya, jika ia pulang menjadi lbh baik dari sebelumnya, diketahuilah bahwa ia mendapatkan haji mabrur.

Kemudian ada hal lain wahai saudaraku yg telah berhaji: pd saat anda meninggalkan Baitullah, memohonlah kpd Allah agar ini tdk menjadi saat yg terakhir bagimu di Baitullah, karena sesungguhnya menyambung keta’atan termasuk dari sebab-sebab ketetapan (iman & ibadah), sebagaimana juga bahwa menyambung kemaksiatan termasuk dari sebab-sebab kesesatan & penyimpangan.

Saudaraku: istiqamah anda dalam keta’atan merupakan kunci keberuntungan utk hari persidangan besar, inilah Nabi kita Muhammad  pernah ditanya: [Amal apakah yg paling dicintai oleh Allah?] Beliau menjawab: “Yang terus menerus, sekalipun hanya sedikit” Hadis Riwayat: Muslim

Saudaraku yg telah menunaikan haji: sesungguhnya diantara tanda keshalihan adl terus menerus (istiqamah) diatas keta’atan, sekalipun hanya sedikit. Saudaraku, inilah permata tdk ternilai yg aku persembahkan, yaitu: hendaklah anda memperbanyak amal shaleh, beriltizam & menekuninya, janganlah menganggap remeh hal tersebut, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menetapkan husnul khatimah untukmu, & memelihara keberkahan hajimu.

Saudaraku: janganlah anda menjadi seperti orang-orang yg tdk pernah mengingat keta’atan kecuali hanya pd musim-musim tertentu, & apabila musim itu telah berlalu, mereka kembali kpd kondisi sebelumnya. ‘Alqamah  bertanya kpd ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: [Wahai Ummul Mukminin, bagaimana amalan Rasulullah , apakah beliau  menentukan hari tertentu (untuk beribadah)?] Ia menjawab: Tidak, ibadahnya terus menerus, siapakah diantaramu yg mampu seperti Rasulullah ? Hadis Riwayat: al-Bukhari

Muhammad bin al-Qasim meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: bahwasanya apabila dia (Aisyah) mengamalkan sesuatu, ia menekuninya.

Saudaraku yg telah melaksanakan haji: anda harus sabar dalam keta’atan ketika meneruskan perjalanan hidupmu yg baru, & bersabarlah pula dalam meninggalkan maksiat, karena sesungguhnya bersabar dalam melaksanakan ibadah & meninggalkan maksiat merupakan tingkatan sabar yg tertinggi, Maimun bin Mihran rahimahullah berkata: [Sabar terbagi dua: sabar atas musibah merupakan sesuatu kebaikan, & yg lbh utama dari hal itu adl sabar dalam meninggalkan maksiat].

Dan janganlah anda wahai saudaraku yg melaksanakan haji, termasuk dari orang-orang yg dikatakan oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullah: [Orang-orang yg tercela adl mereka yg paling sabar dalam menuruti keinginan hawa nafsu & syahwat mereka, & paling tdk sabar dalam ibadah kpd Rabb mereka, ia memiliki kesabaran yg luar biasa dalam menuruti keinginan syetan, & tdk sabar utk berkorban dalam beribadah kpd Allah Subhanahu wa ta’ala dalam perkara yg paling ringan, ia sangat sabar dalam memikul beban yg berat utk mengikuti hawa nafsunya agar mendapatkan ridha musuhnya & ia tdk sanggup menahan sabar utk mendapatkan ridha Rabb-nya].

Ia adl orang yg paling sabar utk berkorban dalam menuruti kemauan syetan & hawa nafsunya, & paling tdk sabar dalam hal itu kpd Allah Subhanahu wa ta’ala , ini adl celaan yg paling besar, ia tdk akan mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala & tdk berdiri bersama orang-orang mulia saat dipanggil di hari kiamat, yg disaksikan seluruh umat manusia, agar semua yg berkumpul mengetahui, siapakah yg paling mulia pd hari ini & dimana orang-orang yg bertaqwa.

Saudaraku yg telah melaksanakan haji: sesungguhnya kesudahan bagi orang-orang yg bersabar adl surga:

” وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ {22} جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ {23} سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ ”

“Dan orang-orang yg sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, & menafkahkan sebagian rejeki yg Kami berikan kpd mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dgn kebaikan; orang-orang itulah yg mendapat tempat kesudahan (yang baik), (22) (yaitu) surga ‘Adn yg mereka masuk kedalamnya bersama-sama dgn orang-orang yg saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya & anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (23) (sambil mengucapkan):”Salamun ‘alaikum bima shabartum”.Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Al Qur’an Surat: Ar-Ra’ad:22-24)

Firman-Nya (Salamun ‘alaikum bima shabartum), Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: [Mereka bersabar terhadap apa-apa yg diperintahkan kpd mereka & bersabar utk meninggalkan segala yg mereka dilarang atasnya].

Saudaraku: secara tabi’at jiwa ini menyukai sifat malas & senang istirahat, maka janganlah anda menuruti keinginannya, supaya syetan tdk mendapatkan jalan kepadamu. Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: [Apabila syetan memperhatikanmu, lalu ia melihatmu tekun dalam keta’atan kpd Allah Subhanahu wa ta’ala , maka ia menghendaki & menginginkanmu, tatkala ia melihatmu tekun dalam ibadah, maka ia jemu & menolakmu, sedangkan jika anda terkadang seperti ini & terkadang seperti itu, niscaya ia sangat berharap padamu].

Saudaraku yg menunaikan haji: ketika datang dari hajimu, maka sesungguhnya masih dekat masamu dgn ibadah kpd Allah swt, sehingga apabila anda menyambung perbuatan tersebut maka akan diharapkan adanya kebaikan padamu, oleh karena itu bersegeralah dgn semangatmu tersebut sebelum datangnya rasa malas & jemu, & apabila anda cenderung kpd rasa malas, niscaya nafsu ammarah (yang selalu menyuruh berbuat jahat) akan menguasaimu utk berbuat keburukan & anda langsung dikuasai syetan, sehingga sirnalah hajimu bersama tiupan angin, dari Huraisy bin Qais rahimahullah, ia berkata: [Apabila engkau ingin melakukan sesuatu kebaikan, maka janganlah menundanya sampai besok hari, apabila engkau mengerjakan urusan dunia, maka perlahanlah, & apabila engkau melaksanakan shalat, lalu syetan berkata kepadamu: (sesungguhnya engkau berbuat karena riya), maka panjangkanlah shalatmu tersebut].

Saudaraku yg telah berhaji: bersegeralah, bersegeralah, janganlah anda berkata: Akan saya lakukan, akan saya kerjakan, inilah Tsumamah bin Bajad as-Salami rahimahullah berpesan kpd kaumnya: [Wahai kaumku, aku memperingatkan kalian (dari ucapan) saya akan mengerjakan, saya akan shalat, saya akan berpuasa].

Saudaraku yg telah berhaji: berjuanglah terhadap dirimu, & janganlah anda menjadi lemah, sebagaimana ketika berjuang pd hari-hari anda berada di tempat yg suci tersebut.

” وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ”

“Dan orang-orang yg berjihad utk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kpd mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yg berbuat baik” (Al Qur’an Surat: Al-Ankabuut: 69)

” فَأَمَّا مَن طَغَى {37} وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {38} فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى {39} وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى {40} فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ”

“Adapun orang yg melampaui batas, (37) & lbh mengutamakan kehidupan dunia (38) maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (39) Dan adapun orang-orang yg takut kpd kebesaran Rabbnya & menahan diri dari keinginan hawa nafsunya (40) maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Al Qur’an Surat: An-Nazi’aat: 37-41)

Saudaraku yg telah berhaji: hendaklah utk tdk meninggalkan memperbanyak berdo’a kpd Allah swt, agar Dia selalu menetapkan anda dalam keta’atan, perbanyaklah utk memelas & menghadap Allah, agar Dia meluruskan langkahmu & anda senantiasa menjalani jalur agama-Nya yg benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak do’a kpd Allah Subhanahu wa ta’ala agar menetapkannya di atas agama-Nya, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang do’a terbanyak yg dilakukan oleh Nabi saw, ia menjawab: [Kebanyakan doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Wahai Dzat Yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku berada diatas agama-Mu” tatkala ditanya tentang hal itu? Beliau menjawab:

” إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌ إِلاًّ قَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمنِ, فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ ”

“Sesungguhnya tdk ada manusia kecuali hatinya berada di antara 2 jari di antara jemari ar-Rahman, barangsiapa yg Dia kehendaki maka Dia akan menetapkannya (diatas kebenaran), & barangsiapa yg dikehendaki-Nya, maka Dia akan menyesatkannya (dari jalan kebenaran)” (Hadis Riwayat: At-Tirmidzi, Ahmad & Ibnu Abi Syaibah, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah. 2091)

Dan dalam satu riwayat: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” يَا مُثَبِّتَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ ”

“Wahai yg menetapkan semua hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu” (Hadis Riwayat: Ibnu Majah: Shahih Sunan Ibnu Majah, karya al-Albani: 166).

Wahai saudaraku yg telah berhaji: apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu meminta kpd Rabb-nya agar menetapkannya di atas agama-Nya, & beliau telah melihat dari tanda-tanda Rabb sesuatu yg cukup utk menetapkan hatinya di dalam agama Allah swt, maka bagaimanakah dgn kita?!! Inilah anda wahai saudaraku, berada pd zaman yg byk sekali fitnah & sebab-sebab penyimpangan, pd era yg mungkin saja tdk dpt menemukan para penolong di atas kebenaran, bahkan apabila mereka melihat anda beristiqamah diatas jalur agama, mereka akan memperolok & memperdengarkan kepadamu segala yg buruk, akan tetapi orang beriman merasa yakin kalau ia berada dalam janji Rabb-nya sehingga tdk menoleh kepadanya. Oleh karena itu anda wahai saudaraku harus memperbanyak do’a kpd Allah Subhanahu wa ta’ala agar menetapkan dirimu berada diatas agama-Nya, jadikanlah do’amu dgn hati yg ikhlas, kenalilah kenikmatan keta’atan & berbahagialah dgn kedekatan kepada-Nya, janganlah anda berdo’a seperti do’anya orang yg lalai, yg tdk memahami apa yg dia ucapkan, karena sesungguhnya anda wahai saudaraku yg melaksanakan haji, membutuhkan ketetapan diatas keta’atan kpd Allah swt, sehingga anda dpt memetik buah hajimu & merasakan keberkahannya.

Wahai saudaraku yg melaksanakan haji: ada persoalan penting yg ingin saya sebutkan bersamaan dgn kepulangan anda menuju tanah airmu, yaitu: janganlah anda memandang terhadap diri sendiri seperti pandangan orang-orang yg tertipu, yaitu orang-orang yg apabila mengerjakan sedikit saja keta’atan, mereka akan menganggap diri mereka seolah-olah manusia paling mulia dimuka bumi, akan tetapi: lihatlah kpd dirimu dgn pandangan kekurangan, karena sesungguhnya sebanyak apapun amal shalih yg anda kerjakan, maka ia tdk bisa digunakan utk mensyukuri kenikmatan terkecil yg Allah anugerahkan terhadap anda. Apabila anda ingin mengetahui tentang keadaan orang-orang shaleh setelah mereka melaksanakan ibadah, maka renungkanlah bersama saya tentang cerita-cerita mereka, agar anda dpt mengetahui bahwa hamba-hamba Allah Subhanahu wa ta’ala yg ikhlas selalu mengakui kekurangan. Inilah Abu Bakar ra setelah memangku jabatan khalifah, ia menyampaikan pidatonya yg terkenal setelah pelantikan dirinya: [Wahai manusia, aku telah diangkat sbg pemimpin kalian, sedangkan aku bukanlah yg terbaik diantara kalian…”

Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: [Bahkan, demi Allah, dia (Abu Bakar ra) adl yg terbaik diantara mereka, akan tetapi orang beriman selalu mengakui kekurangan atas dirinya sendiri].

Muhammad bin ‘Atha menceritakan kpd kita: [Aku sedang duduk bersama Abu Bakar ra, lalu ia melihat seekor burung, kemudian berkata: [Alangkah beruntungnya engkau wahai burung, engkau makan dari pohon ini, kemudian engkau mengeluarkannya (buang air), kemudian engkau tdk menjadi sesuatu, tdk ada hisab atasmu, aku ingin menjadi sepertimu]. Aku berkata kepadanya: [Apakah anda mengatakan hal seperti ini, sedangkan anda adl orang terdekat dgn Rasulullah saw?!!].

Inilah al-Faruq Umar bin Khaththab ra berkata: [Jikalau penyeru berseru dihari kiamat: (Wahai sekalian manusia, masuklah ke dalam surga kecuali satu orang), niscaya aku menduga bahwa satu orang itu adl aku].

Wahai saudaraku yg melaksanakan haji: inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kpd kita bagaimana cara utk beribadah kpd Allah swt, Beliau beribadah di malam hari hingga bengkak kedua kakinya, apabila mereka bertanya akan hal tersebut, beliau akan menjawab:

” أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا ”

“Apakah aku tdk boleh utk menjadi hamba yg sangat bersyukur?” Hadis Riwayat: Al-Bukhari

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ”

“Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun & bertaubat kpd Allah Subhanahu wa ta’ala dalam sehari lbh dari tujuh puluh kali” Hadis Riwayat: al-Bukhari

Bagaimana pendapatmu wahai saudaraku, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengampuni dosanya yg terdahulu & yg akan datang, sedangkan beliau beribadah kpd Rabb-nya dgn cara seperti ini, pantaskah bagi seseorang setelahnya utk mengatakan: Aku telah beribadah kpd Allah Subhanahu wa ta’ala dgn sebenarnya?!!

Wahai saudaraku: tekanlah nafsumu dgn sebenarnya niscaya ia menjadi lurus untukmu, & apabila anda memandang kepadanya dgn pandangan sempurna, niscaya ia akan menjadikanmu lalai sehingga kekurangan dalam menunaikan kewajiban akan memasukimu.

Kemudian wahai saudaraku yg telah berhaji: aku akan menunjukkan kepadamu obat mujarab utk mengobati penyakit malas dalam melaksanakan rutinitas keta’atan, apabila anda mengambilnya niscaya ia akan memberikan pengaruh yg mengagumkan. Tahukah anda obat apakah itu? Sesungguhnya ia adl kematian, ingatlah wahai saudaraku, sesungguhnya anda akan berangkat meninggalkan dunia ini menuju sesuatu negeri yg akan dibalas padanya orang-orang yg berbuat baik & yg berbuat jahat, apabila anda menginginkan utk terus merasakan berkah hajimu, maka ingatkanlah dirimu dgn kematian, karena sesungguhnya ia pd saat itu akan segera utk melaksanakan amal shalih & giat dalam beribadah kpd Allah swt, inilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kpd Abdullah bin Umar ra tentang obat yg mengagumkan ini, beliau memegang bahunya & bersabda kepadanya:

” كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَاِبرُ سَبِيْلٍ ”

“Jadikanlah dirimu di dunia ini bagaikan orang asing atau yg sedang menyebrang jalan”

lalu Ibnu Umar ra berkata: [Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi, & apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah engkau menunggu hingga sore, ambilah kesempatan sehatmu utk saat sakitmu, & ambilah kesempatan hidupmu utk saat matimu]. Hadis Riwayat: al-Bukhari.

Div. Ilmiyah Dar Al Qasim, Terjemah : Muh. Lutfi Firdaus

Iman an-Nawawi rahimahullah berkata: [Pengertian hadits tersebut adalah: janganlah engkau cenderung kpd dunia, & janganlah engkau jadikan dunia sbg tanah airmu, janganlah engkau berbicara kpd dirimu utk dpt hidup kekal padanya, & janganlah engkau bergantung darinya dgn apa-apa yg tdk dilakukan oleh orang asing (pengelana) yg tdk bergantung kpd selain tanah airnya].

Saudaraku: Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: [Bersegerah, bersegeralah, sesungguhnya itulah napasmu, jika telah dihisab niscaya ia akan terputus darimu amal ibadahmu yg dengannya kamu mendekatkan diri kpd Allah swt, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan rahmat-Nya kpd seseorang yg merenungkan dirinya & menangisi dosanya, kemudian ia membaca firman Allah swt:

إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا “”

“karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) utk mereka dgn perhitungan yg teliti” (Al Qur’an Surat: Maryam: 84), Kemudian ia menangis & berkata: [Saudaraku, hitungan: keluarnya ruhmu, hitungan terakhir: engkau berpisah dgn keluargamu, hitungan terakhir: masuknya engkau ke dalam kuburmu].

Saudaraku yg telah melaksanakan haji: Inilah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: [Kematian ini menahan penduduk dunia dari kenikmatan dunia & perhiasaannya yg mereka nikmati, sehingga tatkala mereka dalam keadaan seperti itu kematian datang menjemputnya, maka celaka & merugilah orang yg tdk takut mati & tdk mengingatnya di saat senang sehingga dpt memberikan kebaikan yg akan didapatinya setelah ia meninggalkan dunia & para penghuninya]. Kemudian ia (Umar bin Abdul Aziz) dikalahkan oleh tangisnya & berdiri.

Saudara-saudaraku, sampai kapankah anda akan menunda amal, merasa tamak dalam mencapai angan-angan, tertipu oleh kesempatan serta melupakan serangan kematian? Ketahuilah bahwa apa saja yg anda lahirkan adl utk tanah, apapun yg anda bangun adl utk kehancuran, apa saja yg anda kumpulkan adl utk kesirnaan, & apapun yg anda perbuatan akan tetap tersimpan dalam kitab catatan amal hingga hari penghitungan.

Saudaraku yg telah melaksanakan haji: aku telah memaparkan kepadamu apa yg tersimpan dalam sanubariku, & aku telah memberikan kepadamu hadiah yg berharga ini, maka renungkanlah ia, kemudian aku memohon kpd Allah Subhanahu wa ta’ala agar menetapkan aku & juga anda diatas agama-Nya yg benar, serta memberikan kepadaku & juga anda kebahagiaan di dunia & akhirat.