Mozaik Islam

Puasa Ramadhan, Fiqih Shalat, Rahasia Sunnah, Zakat Fitrah, Haji dan Umrah

Cara Berpuasa dalam Musim Dingin

Assalamualaikum Pak Ustadz,

Saya sekarang sedang berada di AS, pak Ustadz. Ini pertama kalinya saya akan menghadapi bulan suci Ramadhan di luar Indonesia. Untuk saat ini saya bekerja dimana ritme kerjanya menurut saya bisa utk berpuasa dgn lancar (karena kerjanya indoor/dalam ruangan). Tetapi menurut rencana saya akan pindah kerja di luar ruangan dimana menurut estimasi puasa di sini akan dilalui dalam musim dingin. Dan saya berniat sekali utk bisa berpuasa sebulan penuh nantinya.

Yang jdi pertanyaan saya:

  • Bagaimana jika nantinya dalam menjalankan ibadah puasa di tengah jalan saya tdk kuat, mengingat kerjanya tdk ada libur & dalam musim dingin/salju, apakah saya harus membayar dam/denda atau cukup mengganti saja di lain hari setelah habis masa Ramadhan?
  • Apakah shalat saya bisa saya gabung nantinya contohnya: Zhuhur dgn Azhar.Mengingat kerjanya cukup berat & susah utk mengatur waktu shalat. Terimakasih atas jawabannya Pak Ustadz

    Wa’alaikumsalam wr. wb.

Jawaban

Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seseorang yg karena kondisi tertentu tdk mampu berpuasa, dibolehkan utk berbuka. Sebab pd hakikatnya agama Islam itu tdk memberatkan umatnya.

Namun utk itu diperlukan syarat mutlak, yaitu ketidak-mampuannya itu memang sudah sampai titik perjuangan terakhir. Sehingga bila diteruskan puasanya, akan mengakibatkan masalah yg fatal atau bersifat madharrat. Adapun bila masih sanggup utk diteruskan, tentu saja hukumnya haram bila membatalkan secara sengaja.

Dengan demikian, anda wajib berniat sejak malam hari untuk berpuasa & melakukan puasa terlebih dahulu. Kalau di dalam hari itu ternyata tdk kuat lagi meneruskan puasa, maka barulah pd saat itu saja anda boleh berbuka. Anda tdk boleh sejak awal sudah berniat tdk puasa.

Hal yg sama juga berlaku buat mereka yg kerja kasar, entah kuli angkut di pelabuhan atau penarik becak & sejenisnya. Boleh berbuka bila memang pd akhirnya tdk mampu, namun syaratnya sejak semula harus berniat puasa & menjalankannya terlebih dahulu.

Pengganti Puasa

Bila seseorang tdk mampu meneruskan puasa karena kondisi yg payah, maka sbg penggantinya adl dgn berpuasa di hari lain sebanyak hari yg ditinggalkannya. Bukan dgn membayar fidyah. Sebab pengganti dalam bentuk fidyah hanya berlaku buat orang yg sudah sama sekali tdk akan mampu berpuasa seumur hidupnya. Seperti orang yg sudah lanjut usia atau jompo.

Sementara orang sakit yg masih bisa diharapkan kesembuhannya, maka dia harus mengganti dgn puasa di lain hari. Sebagaimana firman Allah SWT:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Maka barang siapa di antara kamu ada yg sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yg ditinggalkan itu pd hari-hari yg lain. Dan wajib bagi orang-orang yg berat menjalankannya (jika mereka tdk berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yg dgn kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yg lbh baik baginya. Dan berpuasa lbh baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah: 184)

Syarat Menjama’ Shalat

Kita memang mengetahui adanya syariat utk menjama’ shalat, yaitu mengerjakan 2 shalat wajib yg berbeda di dalam satu waktu. Namun utk itu harus ada syarat tertentu agar ‘fasilitas’ ini bisa digunakan.
Di antaranya adl bila seseorang dalam keadaan safar, atau ketika turun hujan. Sedangkan menjama’ shalat karena kesibukan, apalagi terjadi setiap hari, tentu saja tdk boleh dilakukan begitu saja.
Sebab setiap orang pasti sibuk setiap hari, bukan hanya di Amerika saja. Di mana pun kalau mau dituruti selalu ada kesibukan. Kalau begitu maka shalat pun pasti akan dijama’ semuanya. Maka kami berpandangan bahwa menjama’ shalat tdk boleh dilakukan hanya karena alasan sibuk. Kecuali bila memang sekali waktu seseorang karena kondisi yg di luar perkiraannya dipaksa oleh keadaan utk tdk bisa shalat. Maka bolehlah saat itu dia menjama’nya. Itu pun tdk boleh tiap hari.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc