Mozaik Islam

Puasa Ramadhan, Fiqih Shalat, Rahasia Sunnah, Zakat Fitrah, Haji dan Umrah

Ibadah

Doa

Memohon kebutuhan yg hanya Allah mampu melakukannya, seperti: menurunkan hujan, menyembuhkan orang sakit, menghilangkan kesusahan yg tdk mampu dilakukan oleh makhluk. Seperti pula memohon surga & selamat dari neraka, memohon keturunan, rizki, kebahagiaan & sebagainya.

Semua ini tdk boleh dimohonkan kecuali kpd Allah. Siapa yg memohon hal itu kpd makhluk; baik masih hidup atau sudah mati berarti ia telah menyembahnya. Allah ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya supaya berdoa hanya kepada-Nya berikut mengabarkan bahwa doa itu adl ibadah. Siapa yg menujukannya kpd selain Allah maka ia termasuk penghuni neraka. “Dan Rabbmu berfirman :

Berdoalah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yg menyombongkan diri dari menyembah-Ku (yakni berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.” (QS.Al Mukmin : 60)

Allah ta’ala berfirman mengabarkan bahwa semua yg diseru selain Allah tdk memiliki manfaat atau madharat utk seorangpun sekalipun yg diseru itu Nabi-Nabi atau para wali.

Katakanlah: “Panggillah mereka yg kamu anggap (Rabb) selain Allah, maka mereka tdk akan mempunyai kekuasaan utk menghilangkan bahaya darimu & tdk pula memindahkannya.” (QS.Al Isra: 56).

Allah ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adl kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping menyembah Allah.” (Al Qur’an Surat: Jin : 18)

Menyembelih binatang, bernadzar & mempersembahkan hewan kurban

Tidak dibenarkan seseorang bertaqarrub dgn cara menyembelih binatang atau mempersembahkan hewan kurban atau bernadzar kecuali hanya ditujukan kpd Allah. Barangsiapa menyembelih karena selain Allah seperti orang yg menyembelih utk kuburan atau jin berarti ia telah menyembah selain Allah & berhak mendapat laknat-Nya.

Allah ta’ala berfirman :

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup & matiku hanyalah utk Allah, Rabb seemesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; & demikian itulah yg diperintahkan kepadaku & aku adl orang yg pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS.Al An’am : 162-163)

Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(( لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ ))

Allah melaknat orang yg menyembelih utk selain-Nya. ” (Hadis Riwayat: Muslim).

Jika seseorang berkata: “Demi si fulan saya bernadzar jika saya memperoleh ini, saya akan bersedekah sekian atau saya akan berbuat demikian”. Nadzar seperti ini merupakan syirik kpd Allah sebab ia bernadzar kpd makhluk. Sedang nadzar itu satu bentuk ibadah tdk boleh dilakukan kecuali ditujukan hanya kpd Allah. Adapun nadzar yg dibolehkan adalah; ucapan, “Demi Allah saya bernadzar akan bersedekah sekian atau berbuat ketaatan demikian, jika saya memperoleh demikian”

Istighatsah (memohon bantuan), isti`anah (memohon pertolongan) & isti`adzah (memohon perlindungan):

Tidak ada yg boleh dimintai bantuan, pertolongan ataupun perlindungan kecuali Allah saja. Allah ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Al karim:

Hanya kepada-Mu kami menyembah & hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS.Al Fatihah: 4).

Allah ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Aku berlindung kpd Rabb Yang Menguasai Subuh, dari kejahatan makhluk-Nya.” (QS.Al Falaq:1-2)

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( لاَ يُسْتَغَاثُ بِيْ إِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللهِ ))

“Tidak boleh beristighatsah (memohon bantuan) kepadaku. Yang boleh dimohoni bantuan hanyalah Allah saja.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Thabrani).

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ ))

“Jika kamu memohon maka mohonlah kpd Allah & jika kamu minta tolong maka mintalah pertolongan kpd Allah.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Tirmidzi)

Orang yg masih hidup & hadir boleh dimintai bantuan & pertolongan pd perkara yg mampu ia lakukan saja. Adapun minta perlindungan maka yg boleh dimintai perlindungan hanya Allah. Sedang orang mati atau tdk ada maka tdk boleh dimintai bantuan maupun pertolongan sama sekali. Karena ia tdk memiliki apa-apa sekalipun ia adl seorang Nabi, Wali atau Malaikat.

Tidak ada yg mengetahui perkara ghaib melainkan Allah saja. Maka siapa yg mendakwakan dirinya mengetahui perkara ghaib berarti ia kafir & wajib didustakan. Sekalipun ia meramal sesuatu lalu benar terjadi maka hal itu hanya bersifat kebetulan. Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu mempercayai apa yg dikatakannya maka ia telah kafir terhadap apa yg diturunkan kpd Muhammad” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad & hakim).

Tawakal, Raja” (berharap) & Khusyu’

Manusia tdk boleh bertawakal selain kpd Allah, tdk boleh berharap selain kpd Allah, & tdk boleh khusyu’ melainkan kpd Allah.

Sangat disayangkan mayoritas orang-orang yg mengaku beragama Islam menyekutukan Allah. Mereka berdoa kpd selain Allah baik berupa orang-orang yg masih hidup lagi diagungkan atau kpd orang dalam kubur. Melakukan thawaf di kuburan mereka & meminta dipenuhi hajatnya kpd mereka. Ini merupakan bentuk peribadatan kpd selain Allah dimana pelakunya bukan lagi disebut sbgseorang muslim, sekalipun mengaku Islam, mengucapkan la ila illallah Muhammad rasulullah, mengerjakan shalat, berpuasa & bahkan haji ke baitullah.

Allah ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu & kpd (Nabi-Nabi) yg sebelummu: “Jika kamu menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu & tentulah kamu termasuk orang-orang yg merugi.” (QS.Az Zuma : 65)

Allah ta’ala berfirman:

…Sesungguhnya orang yg mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, & tempatnya ialah neraka, tdk ada bagi orang-orang yg zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah : 72)

Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya Muhammad  supaya menyatakan kpd manusia:

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yg diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adl Rabb Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dgn Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yg shalih & janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS.Al Kahfi: 110)

Orang-orang bodoh telah tertipu dgn ulama’ jahat lagi sesat yg hanya sekedar tahu sebagian ilmu-ilmu keislaman namun bodoh terhadap tauhid yg merupakan dasar agama. Jadilah mereka menyeru kpd kesyirikan, karena memang tdk memahami maknanya dgn nama ‘syafaat & wasilah’. Alasan mereka mengenai hal itu hanya berupa ta’wil-ta’wil salah terhadap nash-nash & hadits-hadits yg didustakan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dulu maupun sekarang, kisah-kisah & mimpi yg dirasuki syaitan serta berbagai bentuk kesesatan semisal itu yg mereka kumpulkan di buku-buku mereka dalam rangka membenarkan peribadatan mereka kpd selain Allah demi mengikuti syaitan & hawa nafsu serta taklid buta kpd nenek moyang persis seperti orang-orang musyrik dulu.

Wasilah yg Allah perintahkan kita utk mencarinya dalam firman Allah  : “Dan carilah jalan yg mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS.Al Maidah: 35)

adalah amal-amal shalih, berupa; mentauhidkan Allah, shalat, sedekah, puasa, haji, jihad, amar ma’ruf nahi mungkar, menyambung tali silaturrahim & semisalnya. Adapun berdoa kpd orang-orang mati & meminta bantuan kpd mereka ketika menghadapi kesulitan maka ini merupakan peribadatan kpd selain Allah.

Syafaat para Nabi, wali & selain mereka dari kalangan kaum muslimin yg diizinkan Allah utk memberi syafaat adl kebenaran yg harus kita imani. Akan tetapi syafaat tersebut tdk boleh diminta dari orang-orang mati. Karena syafaat itu hak Allah yg tdk seorangpun memperolehnya melainkan atas izin-Nya. Maka seorang yg bertauhid kpd Allah meminta syafaat kpd Allah ta’ala dgn mengatakan, “Ya Allah, izinkanlah Rasul-Mu & hamba-hamba-Mu yg shalih utk memberi syafaat kepadaku”. Dan tdk boleh mengatakan, “Wahai Fulan, berilah aku syafaat” karena ia sudah mati. Sedangkan orang mati tdk boleh dimintai sesuatupun selamanya. Allah ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit & bumi. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS.Az Zumar : 44)

Termasuk bid’ah haram yg menyelisihi Islam & dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits shahih di kitab Shahih Bukhari & Muslim serta kitab-kitab Sunan; yaitu membangun masjid di atas kuburan & menaruh lampu di atasnya, membuat bangunan di atasnya & menulisi batu nisannya, membuat tabir di atasnya serta shalat di kuburan. Semua ini dilarang oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena termasuk sebab terbesar disembahnya orang-orang yg ada di dalam kuburan.

Berdasarkan hal ini jelaslah bahwa diantara bentuk kesyirikan kpd Allah apa yg diperbuat orang-orang bodoh di byk negara, seperti kuburan Badawi & Sayyidah Zainab di Mesir, kuburan Abdul Qadir Jailani di Iraq, kuburan orang-orang yg dianggap Ahli Bait –radliyallahu anhum- di daerah Najf & Karbala di Iraq serta kuburan-kuburan lain di byk negara yg orang-orang melakukan thawaf di sekeliling kuburan tersebut, dimintai hajat kpd penghuninya serta diyakini dpt memberi manfaat & mudharat.

Jelaslah akibat perbuatan mereka ini, mereka menjadi orang-orang musyrik lagi sesat sekalipun mereka mengaku Islam, mengerjakan shalat, puasa, haji ke baitullah & mengucapkan La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah. Sebab orang yg mengucapkan La Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah tdk dianggap sbgorang yg mentauhidkan Allah hingga ia mengetahui sekaligus mengaplikasikan maknanya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Adapun orang non muslim maka ia masuk Islam mula-mula dgn mengucapkan kalimat syahadat tersebut, lalu disebut seorang muslim hingga ia melakukan perbuatan yg menafikan syahadatnya, yg menunjukkan ia tetap dalam kesyirikan, atau ia mengingkari sesuatu kewajiban Islam setelah ia tahu, atau ia meyakini sesuatu ajaran yg menyelisihi agama Islam.

Para Nabi & wali berlepas diri dari orang yg berdoa & meminta bantuan kpd mereka. Karena Allah ta’ala mengutus rasul-rasul-Nya dalam rangka menyeru manusia utk beribadah kepada-Nya saja & meninggalkan peribadatan kpd selain-Nya entah itu seorang Nabi, wali atau yg lain.

Mencintai Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam & para wali pengikut beliau, bukan dgn cara menyembah mereka, karena peribadatan kpd mereka berarti memusuhi mereka. Akan tetapi mencintai mereka adl dgn cara meneladani mereka & meniti jalannya. Seorang muslim yg benar mencintai para Nabi & wali1, namun tdk menyembah mereka. Kita meyakini bahwa mencintai Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl wajib kita dahulukan di atas kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga, anak & seluruh manusia.

Abdurrahman bin Hammad Al Umar, Penerjemah : Muhammad Saifudin, DR.Muh.Mu’inudinillah Basri, MA