Mozaik Islam

Puasa Ramadhan, Fiqih Shalat, Rahasia Sunnah, Zakat Fitrah, Haji dan Umrah

Puasa Jumat Dalam Puasa Dawud

Assalamu’alaikum wr wb

Ustadz yth

Saya saat ini menjalankan puasa sunnah dawud. Lantas bagaimana kalau pas hari Jumatnya? Sedangkan katanya puasa hari jumat makruh hukumnya?

Untuk shalat tahajud itu kalau rakaatnya dua-dua, kalau utk sebelas rakaat apa shalat 2 rakaat kali 5 kmd satu rakaat utk witir Ustadz. makhlum Ustadz saya masih dangkal sekali ilmu Islamnya. Jzk atas jwbnya

Wassalamu’alaikum wr wb

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya para ulama tdk mengatakan bahwa pengkhususan puasa sunnah di hari Jumat sbg puasa yg haram. Para ulama lbh tepatnya mengatakan makruh, bukan haram.

Yang dimakruhkan dalam puasa di hari Jumat adl pengkhususan hari itu utk puasa sunnah. Dan itupun bila tanpa dibarengi atau diiringi dgn rangkaian puasa lainnya.

Tapi kalau ada barengannya, misalnya hari Kamis atau hari Sabtu, juga dilakukan puasa sunnah, maka tdk dikatakan bahwa hari Jumat itu ‘sendirian’. Karena ada barengannya.

Dan menurut hemat kami, ketika seseorang menjalani puasa sunnah sebagaimana puasa Nabi Daud ‘alaihissalam, maka ketika puasa itu jatuh di hari Jumat, juga tdk bisa dikatakan puasa sunnah di hari Jumat sendirian.

Dan demikian juga ketika seseorang bernadzar utk puasa satu hari keesokan harinya apabila pd hari itu mendapatkan apa yg dicita-citakan. Misalnya seseorang bernadzar begini, “Kalau sesuatu hari saya diterima jdi pegawai, maka keesokan harinya saya akan puasa sunnah satu hari.”

Kalau kebetulan pengumuman kelulusannya di hari Kamis, mau tdk mau keesokan harinya harus puasa sehari, meski pun jatuhnya hari Jumat.

Kok boleh?

Boleh, karena niatnya bukan semata-mata mau mengkhususkan hari jumat utk puasa sunnah. Sebenarnya larangan atau kemakruhan puasa khusus pd hari Jumat adl bila seseorang secara sengaja berniat utk mengkhususkan hari Jumat sbg hari puasa sunnah.

Dalil atas makruh atau haramnya puasa khusus di hari Jumat adl sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

Janganlah kalian khususkan hari Jum’at dgn berpuasa, & tidaklah pula malamnya utk ditegakkan (shalat)”. (HR Muslim, Kitabus Shiam Bab Makruhnya Puasa Khusus di Hari Jum’at 1144).

Kalau kita baca fatwa Syeikh Al-‘Utsaimin, di antara hikmah kenapa ada larangan pengkhususan hari Jum’at utk berpuasa, ada beberapa hal:

Pertama, hari Jum’at merupakan salah satu hari raya dari 3 hari raya yg disyari’atkan. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam Islam terdapat 3 hari raya: Hari raya Idul Fitri setelah Ramadhan, Hari Raya Idul Adhha, & hari raya mingguan yaitu hari Jum’at.

Kedua: Selain itu hari Jum’at adl hari dimana sudah sepantasnya bagi seorang laki-laki mengedepankan shalat Jum’at pd hari itu, menyibukkan diri dgn doa, & berdzikir karena hari Jum’at ini serupa dgn hari Arafah yg tdk disyaratkan bagi jama’ah haji utk berpuasa pd hari Arafah itu. Hal ini karena dia sibuk dgn doa & dzikir.

Shalat Malam Dua Rakaat Dua Rakaat

Yang paling afdhal dalam melaksanakan shalat malam, berapapun jumlah rakaatnya, hendaknya dilakukan dgn 2 rakaat lalu salam. Kemudian mulai lagi shalat yg baru, tentu dgn 2 rakaat & salam.

Begitulah seterusnya sampai berapa pun jumlah bilangan rakaatnya. Terakhir baru ditutup dgn shalat witir, baik satu rakaat atau pun 3 rakat menurut sebagian ulama.

Hal itu berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg menjawab pertanyaan seseorang yg bertanya tentang tata cara shalat malam.

Dari Ibnu Umar radhiyallah ‘anhu, “Seorang lelaki bertanya kpd Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang salat malam. Beliau menjawab, “Salat malam itu 2 rakaat 2 rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu salat Subuh, maka hendaklah ia salat witir satu rakaat utk mengganjilkan salat sebelumnya. (HR Muslim)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc