Mozaik Islam

Puasa Ramadhan, Fiqih Shalat, Rahasia Sunnah, Zakat Fitrah, Haji dan Umrah

Puasa dan Produktifitas Kerja

Assalamu ‘alaikum pak Ustadz,

Begitu sering kita dapati sebagian umat Islam yg byk tidur di siang hari bulan Ramadhan, bahkan sampai meninggalkan kewajiban kerja & merusak disiplin yg telah ditetapkan perusahaan.

Mohon dijelaskan pak Ustadz, apakah memang demikian ketentuannya dari segi syariah, yaitu bahwa di bulan Ramadhan memang waktunya utk byk tidur & mengurangi kerja serta produkfitas. Adakah hal itu memang dibenarkan syariah?

Hal ini penting karena yg saya dapati dari kebanyakan teman-teman memang suka tidur di siang hari bulan Ramadhan dgn alasan malamnya tarawih, tahajud, bangun sahur & seterusnya.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jawaban Ustadz

Wassalam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang benar apa yg anda sampaikan bahwa salah satu cara penyikapan yg perlu dikoreksi dari kebanyakan umat Islam adl masalah byk tidur di kala puasa. Seolah-olah datangnya bulan Ramadhan menjadi legitimasi utk memperbanyak jam tidur siang. Walau pun hal itu terjadi pd jam-jam kerja sehingga menjadikan jam kerja di bulan Ramadhan menjadi kurang produktif.

Hal seperti itu bisa kita lihat dari pemandangan yg kita lihat di masa sekarang ini, di siang hari bulan Ramadhan, dimana masjid-masijd dipenuhi oleh tubuh-tubuh bergelim-pangan utk tidur di jam-jam produktif. Sayangnya melakukan hal itu dgn alasan karena malamnya melakukan shalat malam atau karena bangun sahur.

Namun benarkah syariat Islam mendisain seperti itu? Mari kita lakukan sedikit kajian.

Jadwal Shalat Malam

Sebenarnya kalau kita teliti lbh jauh, shalat malam tdk hanya dianjurkan di dalam bulan Ramadhan saja, tetapi di luar Ramadhan pun sama juga dianjurkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & para shahabat terbiasa bangun di tengah malam & melakukan qiyamullail, bukan hanya di bulan Ramadhan saja tetapi juga di luar bulan Ramadhan.

Namun kita juga tahu bahwa pd siang hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & para shahabat tetap bekerja di siang hari & tetap produktif dalam kerjanya.Hal itu dibuktikan dgn begitu byk nya prestasi & kemenangan yg mereka raih selama bulan Ramadhan.

Lalu apa rahasianya? Ada byk hal yg menyebabkannya. Tetapi ada salah satu bahan pemikiran yg barangkali berguna utk kita renungkan.

Begini, kalau kita teliti nash-nash tentang jadwal siklus kehidupan yg dijalankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & para shahabat, ternyata memang ada sedikit perbedaan cara puasa & ibadah antara kita.

Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk tidur sebelum shalat ‘Isya namun tdk suka berbicara (begadang) setelah shalat ‘Isya’. Dan itu byk dijelaskan dalam byk riwayat. Lalu apa yg bisa kita tarik kesimpulan dari hal ini?

Seandainya kita di masa sekarang ini menerapkan konsep jadwal siklus kehidupan seperti dalam riwayat di atas, mungkin hasilnya akan berbeda. Cobalah setelah shalat Isya’ jam 19.00 atau jam 20.00 malam, kita langsung tidur, tdk nonton TV atau mengerjakan hal-hal lain.

Maka kalau kita hitung-hitung, ternyata kita akan tidur lbh awal dari biasanya. Dengan tidur di waktu sesiang itu, kalau seandainya di tengah malam kira-kira jam 02.00 atau jam 03.00 malam kita bangun utk tahajjud, secara matematis jam tidur kita sudah sangat cukup. Sudah sekitar 7 jam lamanya. Dan tdk ada lagi alasan utk mengantuk, baik setelah shubuh atau pun di siang hari.

Sayangnya, justru yg sering kita lakukan justru sebaliknya. Kita terbiasa tidur larut malam. Setelah shalat ‘Isya’ kita sering masih keluyuran kesana kemari, atau bahkan malah belum tiba di rumah.

Lalu anggaplah kita tidur jam 23.00 atau jam 24.00 malam, lalu kita ingin bangun shalat tahajjud atau bangun sahur, secara matematis ternyata kitabaru tidur selama 2 atau 3 jam saja.

Secara perhitungan manusiawi normal umumnya, sangat logis kalau tubuh kita minta tambahan jam tidur di siang hari, entah ba’da shubuh atau pun ba’da shalat Dzhuhur.

Padahal kalau kita bisa atur jadwal seperti di atas, insya Allah tdk akan ada masalah dgn jadwal tidur & istirahat.

Jadwal Sahur Yang Tepat

Sebagian dari kita ada yg menjadikan bangun malam utk makan sahur sbg penyebab utk dimakluminya tidur di siang hari. Padahal kalau mau ikut sunnah Rasulullah SAW, seharusnya bangun sahur tdk perlu dijadikan alasan utk mengantuk di siang hari.

Sebab yg disunnahkan ketika makan sahur itu adl yg semakin dekat dgn waktu shubuh. Katakanlah 15 menit sebelum masuk waktu shubuh sampai setengah jam. Dengan demikian, kalau ada jam tidur malam kita yg terambil utk sahur, paling byk hanya 30 menit saja. Dan seandainya kita tidur agak awal setengah jam, maka hitung-hitungannya akan sama saja.

Dengan demikian, tdk ada alasan bagi kita utk tidur di siang hari. Karena jam tidur malam kita praktis tdk ada yg berkurang. Kecuali hanya beberapa menit saja.

Sebaliknya, kalau kita sudah bangun sejak jam 2 malam utk sahur & kemudian setelah itu tdk tidur lagi sampai shubuh, pastilah siangnya kita akan mengantuk. Sebab secara perhitungan manusiawi, tubuh kita masih kekurangan jam tidur.

Masalah Cara Pandang

Tetapi yg paling serius menyebabkan kebanyakan umat Islam tidur di siang hari bulan Ramadhan & menjadi tdk produktif adl masalah cara pandang yg keliru.

Selama ini, seolah semua pihak menjadi maklum kalau siang hari bulan Ramadhan itu tdk produktif. Mereka maklum karena malam hari digunakan utk ibadah & juga makan sahur.

Padahal cara pandang seperti ini tdk sepenuhnya benar. Buktinya, segudang prestasi umat di masa lalu terjadi di bulan Ramadhan. Kalau mereka kerjanya hanya ‘molor’ & bermalas-malasan di siang hari, mustahil prestasi & kemenangan demi kemenangan bisa diraih.

Tetapi sekali lagi, masalahnya memang ada pd cara pandang yg keliru. Selama cara pandang keliru itu masih bersemayam di otak kita, maka selama itu pula kita aka kehilangan jam-jam produktif di siang hari selama bulan Ramadhan.

Dan sebenarnya byk berbagai prestasi umat Islam yg tercatat dgn tinta emas sejarah, dimana semua terjadi justru di dalam bulan Ramadhan.

Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc