Mozaik Islam

Puasa Ramadhan, Fiqih Shalat, Rahasia Sunnah, Zakat Fitrah, Haji dan Umrah

Pemurnian Ajaran Islam dan Tradisi Lokal

Dakwah Kultural sbg strategi perubahan sosial bertahap sesuai dgn kondisi empirik yg diarahkan kpd pengembangan kehidupan Islami sesuai dgn paham Muhammadiyah, yg bertumpu para pemurnian pemahaman & pengamalan Ajaran Islam dgn menghidupan ijtihad & tajdid. Sehingga purifikasi & pemurnian Ajaran Islam tdk menjadi kaku, rigid & eksklusif, tetapi terbuka & memiliki rasionalitas yg tinggi utk dpt diterima oleh semua pihak. Dengan memfokuskan pd penyadaran iman melalui potensi kemanusiaan, diharapkan umat dpt menerima & memenuhi seluruh ajaran Islam yg kaffah, secara bertahap sesuai dgn keragaman sosial ekonomi, budaya, politik & potensi yg dimiliki oleh setiap kelompok umat.

Atas dasar pemikiran tersebut dakwah kultural dpt dipahami dalam 2 pengertian, yaitu pengertian umum (makna luas) & pengertian khusus (makna sempit). Dakwah kultural dalam arti luas dipahami sbg kegiatan dakwah dgn memperhatikan potensi & kecenderungan manusia dgn makhluk berbudaya dalam rangka menghasil kultur alternatif yg kultur Islam, yakni berkebudayaan & berperadaban yg dijiwai oleh pemahaman, penghayatan & pengamalan ajaran Islam, yg murni bersumber dari Al-Quran & al-Sunnah, & melepaskan diri dari kultur & budaya yg dijiwai oleh kemusyrikan, takhayul, bid’ah & khurafat.

Adapun dalam pengertian khusus, dakwah kultural adl kegiatan dakwah dgn memperhatikan, memperhitungkan & memanfaatkan adat-istiadat, seni, & budaya loka, yg tdk bertentangan dgn ajaran Islam, dalam proses menuju kehidupan Islami, sesuai dgn manhaj Muhammadiyah, yg bertumpu pd prinsip salafiyyah (purifikasi) & tajdidiyyah (pembaharuan).

Munculnya konsep dakwah kultural, sebagaimana diputuskan oleh Sidang Tanwir Muhammadiyah, Januari 2002, didorong oleh keinginan Muhammadiyah utk mengembangkan sayap dakwahnya menyentuh ke seluruh lapisan umat Islam yg beragam sosial kulturalnya. Sehingga dgn dakwah kultural, Muhammadiyah ingin memahami pluralitas budaya, sehingga dakwah yg ditujukan kpd mereka dilakukan dgn dialog kultural, sehingga akan mengurangi benturan-benturan yg selama ini dipandang kurang menguntungkan, tetapi tetap berpegang pd prinsip pemurnian (salafiyyah) & pembaharuan (tajdidiyah).

Dengan demikian, dakwah kultural sebenarnya akan mengokohkan prinsip-prinsip dakwah & amar makruf nahi munkar Muhammadiyah yg bertumpu pd 3 prinsip Tabsyir, Islah & Tajdid (TIT).

Prinsip tabsyir, adl upaya Muhamamdiyah utk mendekati & merangkul setiap potensi umat Islam (umat ijabah) & umat non-muslim (umat dakwah) utk bergabung dalam naungan petunjuk Islam, dgn cara-cara yg bijaksana, pengajaran & bimbingan yg baik, & mujadalah (diskusi & debat) yg lbh baik. Kepada umat Ijabah (umat yg telah memeluk Islam), penekanan tabsyir kpd peningkatan & penguatan visi & semangat dalam berislam. Sementara kpd umat dakwah (umat non-muslim) adl memberikan pemahaman yg benar & menarik tentang Islam, serta merangkul mereka utk bersama-sama membangun masyarakat & bangsa yg damai, aman, tertib & sejahtera. Dengan cara ini dakwah kpd non-muslim tdk diarahkan utk memaksa mereka memeluk Islam. Tetapi membawa mereka kpd pemahaman yg benar tentang Islam, sehingga mereka tertarik kpd Islam, bahwa dgn sukarela memasuki Islam.

Prinsip Islah, yaitu upaya membenahi & memperbaiki cara berislam yg dimiliki oleh umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, dgn cara memurnikannya sesuai petunjuk syar’I yg bersumber pd Al-Quran & Sunnah. Ini dpt diartikan bahwa setelah melakukan dakwah dgn tabsyir, maka umat yg bergabung diajak bersama-sama memperbaiki pemahaman & pengamalannya terhadap Islam.

Umat yg telah bergabung dalam dakwah tabsyiriyah memiliki background yg beragam baik sosial ekonomi, sosial budaya, maupun latar belakang pendidikannya. Keragaman tersebut akan membawa pengaruh kpd cara pandang, pemahaman & pengamalan Islam, yg dalam byk hal perlu diperbaiki & dibenahi sesuai dgn pemahaman keagamaan Muhammadiyah, yg bersumber dari Al-Quran & al-Sunnah.

Prinsip tajdid, sesuai dgn maknanya, prinsip ini mengupayakan pembaharuan, penguatan & pemurnian atas pemahaman, & pengamalan Islam yg dimiliki oleh umat ijabah, termasuk pelaku dakwah itu sendiri.

Baik prinsip islah maupun tajdid byk dilakukan dgn cara menyelenggarakan pengajian & ta’lim baik bersifat umum maupun terbatas. Juga mendirikan sekolah-sekolah, madrasah-madrasah & pondok pesantren.

Terminologi Dakwah kultural memberikan penekanan makna yg berbeda dari dakwah konvensional yg disebut juga dgn dakwah struktural. Dakwah kultural memiliki makna dakwah Islam yg cair dgn berbagai kondisi & aktivitas masyarakat. Sehingga bukan dakwah verbal, yg sering dikenal dgn dakwah bil lisan (atau tepatnya dakwah bi lisan al-maqal), tetapi dakwah aktif & praktis melalui berbagai kegiatan & potensi masyarakat sasaran dakwah, yg sering dikenal dgn dakwah bil hal (atau tepatnya dakwah bi lisan al-hal).

Dengan makna di atas, dakwah kultural Muhammadiyah sebenarnya mengembangkan makna & implementasi Geraakan Jamaah & Gerakan Dakwah Jamaah (GJ-GDJ) yg diputuskan oleh Muktamar Muhammadiyah ke 37 di Yogyakarta, tahun 1967, yg disempurnakan pd Rapat Kerja Nasional & Dialog Dakwah Nasional, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1987 di Kaliurang.

Dakwah dgn pengembangan masyarakat dilakukan dgn pengembangan sumber daya manusia, yaitu memberikan bekal sesuai dgn kebutuhan & kecenderungan kehidupannya, dgn memasukkan prinsip-prinsip kehidupan Islami. Sehingga mereka dpt melakukan pemenuhan kebutuhan, kepentingan & kecenderungan hidupnya dgn bimbingan nilai-nilai ajaran Islam.

Interaksi Muhammadiyah dgn pluralitas budaya, & lbh khusus seni budaya & komunitasnya telah melahirkan sejumlah ketegangan, baik yg bersifat kreatif maupun destruktif.
Ketegangan tersebut bersumber pd realitas historis-sosiologis, bahwa byk nya kebudayaan & seni budaya pd khususnya yg dikembangkan berasal dari ritual-ritual keagamaan sebelum kedatangan Islam. Sehingga byk seni-budaya & tradisi budaya lokal yg mengandung nilai-nilai & norma-norma yg bertentangan dgn aqidah, syari’ah & akhlak Islam. Di samping itu, juga bersumber dari kerigidan pemahaman agama, yg tdk memberi ruang kpd pluralitas budaya & pemahaman keagamaan, & pemahaman terhadap ajaran Islam yg terlalu tekstual & literal, dgn tdk melakukan pemekaran makna, tdk menggunakan pendekatan rasional & pendekatan integratif (tauhidi).

Dalam kaitan dgn dgn pluralitas budaya & tradisi lokal, dakwah kultural, sebagaimana dikemukakan di muka, Muhammadiyah memberikan sikap ko-eksistensi & pro-eksisten dalam rangka tabsyiriyah, tetapi pd saatnya Muhammadiyah melakukan islah & tajdid, sehingga seni & budaya lokal yg tdk bertentangan dgn aqidah, syari’ah & akhlak Islam dpt dipertahankan dgn memberikan isi dgn pesan-pesan keislaman. Di samping itu melakukan kreasi baru dgn menawarkan kultur alternatif yg merupakan ekspresi dari pengahayatan ajaran Islam, serta meluruskan segala kultur, & seni-budaya yg membawa nilai-nilai kemusyrikan, takhayul, bid’ah & khurafat menuju al-tauhid al-khalis. Dengan demikian sikap ko-eksistensi & pro-eksistensi merupakan konsekwensi pluralitas budaya & sikap rasional Muhammadiyah, akan tetapi sikap ini merupakan bagian dari proses dalam tahapan & marhalah dakwah. Sedangkan tujuan akhir dakwah cultural Muhammadiyah adl tujuan dakwah Islam itu sendiri, yaitu tegaknya aqidah, syari’ah & akhlak Islam secara kaffah, & bersih dari syirk & TBC. Wa fawqa kulli dzi ‘ilmin ‘Alim.

Oleh: H. Syamsul Hidayat,
Wakil Ketua MTDK PP Muhammadiyah